• Home
  • About
  • Struktur Organisasi
  • Event
    • Sekolah
    • Asrama
  • Karya
IT’S TIME TO WAKE UP STAND UP MOVE UP! Ini dia nih ‘jargon’ LANGUAGE COMPETITION tahun ini. yang dilaksanakan tanggal 15-17 Desember 2015 kemarin. Dengan berbagai lomba yang pastinya bersangkut paut dengan ‘kemampuan bahasa’ siswa-siswi MA Nurul Islam Tengaran kelas 10-11  seperti ; Poem, Ranking 1, Translate, Spelling Bee, Khitobah, Speech, Insya’, Writing, Reading News, dan Qiroatul Kutub. Eh tapi ada juga nih satu lomba yang beda dari yang lain ; Graffity. Di Language Competition kali ini ada juga nih Talkshow bareng Ust. Tri Bimo Soewarno., Lc. Penasaran ga sih gimana acaranya? Yuk liat!

DAY 1.
Hari pertama nih dibuka dengan acara opening ceremony pastinya. Dengan amanat dari Ust. Muh Sa’dullah Mahmud selaku Kepala Madrasah, dan Ust. Luthfi Chakim selaku pembina OPNI. Ada yang unik banget nih dari opening ceremony Language Competition ini. Apa? Kita kemaren kan udah pake balon di Muharram Awesome, sekarang kita pake ‘sepasang burung dara’ sebagai ‘lambang’ dibukanya acara Language Competition 2015 ini! Penasaran? Bisa di check di gallery manista kita kok :)
Selesai opening ceremony, break setengah jam lalu dimulai nih lomba Grafitty, Insya’, Writing, Translate, Poem, dan Qiroatul kutub. Untuk Insya’, Writing, dan Translate di jadiin satu di ruangan, temanya ‘education/pendidikan’. Qiroatul Kutub di ruang sebelahnya dengan juri ust. As’ad Mahmud, kitab yang dibaca adalah hadis arba’in+nashoihul ‘ibad, sesuai dengan materi kajian kitab yang setiap minggu kita pelajari sebelumnya. Buat yang Poem nih maksutnya ‘baca’ puisi. Ada yang inggris dan ada yang arab pastinya. Untuk yang grafitty, kita ceritanya melkis dinding batas madrasah gitu. Fotonya juga ada di gallery kita kok :D

DAY-2
Hari kedua kita mulai make’ panggung nih. Dengan lomba; Khitobah, Speech, Reading News, Ranking 1, dan Spelling Bee. Untuk Khitobah&Speech di lakukan seperti biasa. Buat yang Reading News ada 2 babak nih, babat pertama membacakan news yang sudah diberikan beberapa hari sebelumnya, dan babak kedua babak tantangan, jadi news nya diberi dan dibaca saat itu juga. Buat Ranking 1 gak dipanggung pastinya. Pernah nonton acara ranking 1 kan? Nah kira” sama kayak gitu lah, cuman soalnya seputar ‘bahasa’. Dilanjutkan Spelling Bee, ini juga ada 2 babak, babak pertama soal wajib, babak kedua estafet kata.

DAY-3
Hari terakhir nih. Pastinya clossing dong. Eits, tapi sebelum closing ada Talkshow dari Ust. Tri Bimo Soewarno Lc. Dengaan isi talkshow yang juga berhubungan dengan bahasa; bagaimana seharusnya kita untuk menerapkan kemampuan berbahasa kita setiap hari, khusus nya arab, karena sekolah kita adalah ‘Madrasah’, walaupn dengan ‘Broken Arabic’ :D Seru banget ini Talkshow nya, selain ustadz nya yang sangat bersemangat, beliau juga membuat pendengarnya ikut semangat. Nah setelah selesai talkshow kita langsung lanjut ke pembagian hadiah. Eh, pengumuman pemenang maksudnya :D.

15 November 2015. Kita OPNI akhwat punya agenda yang berpengaruh banget nih buat kinerja kita, ‘Kekompakan’. Yap! Itu dia yang lagi kita butuhkan banget. Bisa kompak antara OPNI MA dengan OPNI SMP. Kenapa? Karena sekarang kerja kita yang bersangkutan dengan asrama antara OPNI MA dengan SMP jadi satu. Maka kita ‘bekerjasama’ membantu ustadzah dalam ‘mengatur’ asrama. Kalo orang bilang ‘gak ada bedanya antara MA-SMP’. Acaranya apa?

MALAM AKRAB, sebut aja MAKRAB. Karena setelah 3 bulan kita –SMP dan MA- menjalani program bareng-bareng, ustadzah masih merasa kita belum terlalu akrab, diciptakanlah acara ini. Pastinya dengan harapan kita –OPNI MA-SMP- bisa akrab, apalagi sesama divisi, sehingga kita bisa lebih enjoy dalam berkerja.

Acara dimulai ba’da isya’, malam ahad, tapi sorenya kita berinisiatif mengadakan foto per-divisi –dan tentunya gabung OPNI MA-SMP-. Penasaran sama fotonya? Liat aja di gallery kita ^^.

 Dan dimulaiah acara makrab dengan pembukaan dari ustadzah, lalu dilanjutkan sharing-sharing per divisi, dan ada juga pensi per divisi, ada yang nyanyi, drama, bahkan mencurahkan isi hati divisi(?). Ada juga loh pensi dari para ustadzah. Acara pensi ditutup dengan delegasi satu orang dari setiap divisi untuk unjuk suara emasnya. Dan dari sinilah terlihat ternyata banyak suara yang emas banget(?) yang tersembunyi. Setelah itu kita tidur di masjid, per divisi juga kumpulnya.

03.20, kita melaksanakan sholat tahajud, menunggu waktu subuh, setelah itu subuh berjama’ah di masjid dengan yang ‘lainya’, tapi saat waktu ma’tsurot pagi ba’da subuh kita turun, karena rencananya mau ma’tsurot bareng di halaman sekolah SMP yang akhirnya bejalan sebagaimana mestinya. After ma’tsurot, dimulailah agenda di pagi hari, GAME! Nah game ini gak hanya sekedar game, karena satu grup satu divisi, ini sangat melatih kekompakan kita. Bagaimana seorang ketua memberikan instruksi pada anggotanya, bagaimana anggota harus mematuhi ketuanya, bagaimana cara kita bisa enjoy meskipun itu bareng OPNI SMP. Game diakhiri dengan perang badar, serang satu sama lain, melindungi anggota sesama divisinya, dan berakhir dengan permainan air. Prinsip ‘semua orang harus basah’ :v serulah pokoknya!

Acara pagi itu ditutup dengan pengumuman pemenang, pembagian hadiah, dan foto-foto ria :D. Dan ternyata acara ini gak gagal dalam tujuanya untuk mengakrabkan kita. Alhamdulillah. Semoga kinerja kita OPNI MA-SMP bisa lebih baik lagi. Aamiin.




"apakah harus semua masa lalu kau enyahkan?" bisik mama suatu hari. Aku hanya termenung menatap hamparan ilalang hijau. Seolah batin ini merintihmeminta jawaban pada mereka, namun hanyalah hampa yang merasuki telingaku. “mama tidak memintamu menghapus semua” lanjut mama pelan, “biarlah segalanya berjalan semestinya.” Aku hanya mengangguk perlahan, mencerna baik makna mutiara indah dari bibirnya itu.
****
Aku tak mengerti alasan mengapa Kak Fikri begitu jarang mengajakku biara akrab laaknya saudara kandung yang lain. Kita seruah dan sedarah naun terasa begitu sunyi karena nyaris seumur hidup tak pernah kudengar suaranya menyapaku. Biara pun kaku dan lebih banyak menghindar bila aku mendekati atau engajaknya bicara.
“Mama, Kak Fikri kenapa? ” tanyaku suatu hari “kok setiap diajak biara menghindar terus?”
Mama hanya menatapku penuh sayang. “kamu percaya kan kalo Kak Fikri sayang kamu?” dan sebagai gadis kecil polos yang belum mengerti tabiat hati aku hanya mengangguk.
Tahun demi tahun membuai tinggalkan hari, namun sifatnya tak juga berubah dia mulai sering pulang larut malam dan jarang di rumah. Dia datang kala aku telah terlelap dan pergi sebelum aku menyambut pagi kembali. Tiap kutanya “mau pergi kemana kak?” dia hanya berujar “kuliah.”
Kendati sifatnya amat menjengkelkan. Kuccoba selalu berbaik sangka kalau dia benar sayang padaku kuoba engajaknya biara sesering mungkin agar keakraban semakin semakin tercipta. Namun penyakitnya itu sudah keterlaluan. Dan lagi, masih ada satu hal yang ingin kudapat darinya. Dan inilah yang buatku iri pada pasangan saudara lainya. KASIH SAYANG. Maka suatu hari kutahan ia unntuk pergi dan mengajaknya bicara. Di ruang keluarga kami duduk berhadapan.
“Kak harus segitu dinginya sama aku?”
Kak Fikri hanya diam dan sesekali menatapku. Wajahnya yang cukup tampan berekspresi datar.
“Jawab aku, Kak.” Desakku pelan “Sikap kakak buat aku kesal!”
Kakak menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Ia membasahi bibirnya untuk ancang-ancang bicara,
“A..ku,”
“Apa salahku hingga kehadiranku hanya kakak anggap hampa?” sanggahku cepat, Ia kembali diam.
“Jujur Kak, aku iri dengan teman-teman yang begitu harmonis sama kakaknya. Aku ingin, Kak! Bahkan aku bahagia menerima kenyataan memiliki saudara seshalih dan setampan kakak. Namun tahu kalau kakak sangat kaku walau sekedar menyapa, aku pikir…” suaraku tercekat, “kakak menyesali kita sedarah!”
Bibirnya tergerak-gerak sebentar namun terdiam lagi
“Aku nggak tahu.” Ujarnya pendek.
“Apa maksud kakak?” suaraku gemas.
“Tidak mau atau memang tidak tahu?”
Beberapa detik kebisuan tercipta dan tidak ada yang mau mengawali pembicaraan. Lalu…
“Tidak mau tahu.”
Ia pun menghilang dibalik pintu.
***
“Mama, mengapa mama memberiku nama krisan?”
Mama menoleh, kaget dengan pertanyaanku. Namun senyumnya muncul kembali. “Setiap nama adalah do’a, Sayang. Orangtua tidak mungkin memberi anaknya nama yang buruk.”
“Apa makna namaku, Ma?” Mama menghela nafas.
“Dulu waktu kau lahir kakaku menghampiri mama sambil menangis. Dia engadu kalau ia selalu diejek temanya di pesantren. Teman-temanya mengatai, bani dan pengeut. Jujur, hati mama hancur karena tidak terima. Lalu kakakmu meminta mama mendo’akanmu agar kau tidak bernasib sepertinya.”
Aku terdiam, terpesona cerita mama.
“Tepat dihari ketujuh kelahiranmu, mama menamaimu Krisan. Dengan harapan kau kelak dapat menjadi perlambang kebahagiaan, perdamaian, dan persahabatan. Seperti permintaan kakakmu.”
Aku terpaku mendengarnya. Tak kusangka naaku adalah tanda cinta dari kakakku. Nama yang diberikan mama untuk menjawab permohonan kakakku. Terjawab sudah fakta Kak Fikri menyayangiku
“Jangan risau kalau dia tak pernah bisa terbuka denganmu,” kata mama seolah mengerti isi hatiku. “Trauma masa lalunya akan segera berakhir”
Aku pun memeluknya. “Ma, bisakah aku sebahagia namaku?” Mama mengeup keningku.
***
Muharram hanya tinggal menghitung jam sejak sore mama telah repot menyiapkan hidangan untuk pengajian akbar nanti malam. Anak-anak TPA sibuk mengumpulkan buluh bambu yang disulap menjadi obor. Rencananya akan ada pawai besar enyabut bulan penuh makna untuk umat islam ini. Namun menjelang maghrib, nampak Kak Fikri berjalan menggendong tas ransel besar seperti baisanya. Ia menuju rak sepatu dan memakai salah satu sepatunya.
“Kak mau kemana lagi? Malam Muharram sama keluarga aja, Kak.”
Ia menoleh sedikit, “Ada acara di kapus nggak bisa ditinggal.” Aku engangguk paha
“Hati-hati di jalan,.. Kak,” ujarku sembari membalikkan badan untuk kembali ke kamar. Ia memanggul ranselnya dan besiap pergi, namun gerakanya tertahan saat akan membuka pintu.
“Krisan…”
Langkahku tersendat, rasanya ingin kuulangi detik-detik yang baru saja pergi aku bahkan melongo tak percaya inilah pertama kalinya ia menyebut namaku kubalikkan badan dan menatap wajah teduhnya
“I… iya, Kak?”
Ia mendekat dan mengulurkan tanganya. Hal yang seumur hidup baru dilakuanya padaku. Air mataku mulai meluruh tanda pecahnya kebahagiaanku. Kuciu punggung tanganya dala-dala sepenuh rindu. Tangisku tercurah disana.
“Kakak…” ia menghela nafas “sayang kamu.. Krisan,” tangisku makin deras. Inilah sejarah membahagiakan dalam hidupku.
“Krisan juga sayang Kakak.” Ujarku bergetar.
“Do’akan kakak baik-baik saja.” Tambahnya.
Puas menangis, kulepaskan tanganya dan melepas langkahnya.
***
“Ayo pulang.” Bujuk mama padaku. Ternyata lebih dua jam aku mem-flashback kenangan indah pertama dengan Kak Fikri. Sore mulai merangkak dan sang surya mulai kembali ke singgasana. Masih terngiang jelas dalam ingatanku. Rahman, sahabat Kak Fikri menelfonku dengan berita yang mengguncang “Kakakmu meninggal tertabrak mobil.”
Tepat ditengah malam Muharram, kakakku yang akan menyebrang ke kampus disrempet mobil berkecepatan tinggi karena dikejar mobil polisi. Pendarahan hebat di otaknya membuat ia tak tertolong.
“Ayo pulang..” bujuk mama lagi. “Masa lalu tak harus kau lupakan seuanya. Sisakan seuil untuk kenangan dan pelajaran hidupmu.” Mama merangkulku. “Ia tak enyesal kalian sedarah.”
Aku mulai erdiri dan menatap lagi padang ilalang di hadapanku. Dibawah pohon kamboja itulah kakakku beristirahat dengan tenang. MUHAMMAD FIKRI ZUKRULLAH. Ukiran yang masih enggan hengkang dari tatapanku. Muharram perpisahan itu memberi kenangan yang tak tergantikan. Saat itulah kurasai betapa dalamnya kasih sayang Kak Fikri padaku.
“Kakak sayang kamu, Krisan”
Pernyataan itu membuat air mataku meluruh kembali.
“Aku sayang kakak juga.”
Dinginya sore semakin menggigit.
Gustya Reformasi C.H/XII-2
Juara II Cerpen ‘Muharram Awesome’
Aku ingin
Panasnya mentari
Dapat membangkitkan jiwa yang
Terpuruk lama telah kembali

Aku ingin
Sang mentari akan cerah
Layaknya sunrise di pagi hari

Aku ingin
Mengerahkan apa yang telah kupendam
Selama ini.
Agar kelak ku akan juara nanti

Aku ingin
Semarakkan tahun ini
Layaknya kemenangan yang dapat
Menerikkan sang mentari
M. Muhajir, X-1
3rd Winner of Poem
MUHARRAM AESOME. REFRESH YOUR SELF, GIVE ALL YOU HAVE. 6-9 Oktober 2015. Acara perdana yang awesome banget nih dari kita OPNI 2015/2016. Disini ceritanya kita classmeeting pasca UAS sambil nunggu perpulangan –eh?- proses pengumpulan nilai dari ustadz/ah dalam hasil UTS kita maksudnya. Nah, kenapa dinamakan Muharram Awesome? Masa namanya classmeeting doang, kan ga berasa sensasinya(?) akhirnya kita mengambil tema ‘Muharram Awesome’ sekaligus menyambut bulan suci Muharram.
Disini kita punya 2 tipe lomba. Ada yang berhubungan dengan kepustakaan, dan yang satunya berhubungan dengan olahraga. Jadi nih acara ga cuman adu otot doang, tapi juga otak. Kayak firman Allah yang intinya ‘Orang berilmu akan diangkat lebih tinggi derajatnya’ sama hadis nabi yang intinya ‘ Allah lebih mencitai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah’. Karena kita ingin menjadi mukmin sebaik baiknya di mata Allah, maka kita memaksimalkan segala yang bisa kita lakukan, kayak bikin acara classmeeting semacam ini nih.
Kemarin kita membuka acara ini dengan upacara kecil kecilan+penerbangan balon oleh kepala madrsah kita tercinta Ust. Muh Sa’dullah Mahmud :D
Lomba tipe pertama kepustakaan. Disini ada 6 jenis lomba; menulis puisi, cerpen, cergam, kaligrafi, resensi, dan fotografi. Mungkin agak gimanaa gitu kali ya habis UTS lombanya mikir-mikir lagi, tapi pasti banyak juga orang yang hobi nulis, sama gambar-gambar gitu, jadi stay enjoy aja sih buat kita ngejalaninya.
Lomba tipe kedua olahraga. Nah ini acara seru banget. Cuma ada 3 lomba sih, tapi asyik, di lomba ini kita punya 3 lomba; soccer, basket 3 on 3, dan tennis meja. Buat yang soccer, ada super soccer itu buat ikhwan, supeer soccer maksutnya itu sepak bola dengan ukuran lapangan pada umumnya. Kalo buat akhwat namanya mini soccer, udah ketauan dari namanya, ukuran lapangan mini gawang juga ikut mini. Buat basket 3 on 3, ini basketnya 3 lawan 3 dan cuma pake setengah lapangan basket. Kalo tennis meja, ini tennis meja yang pemain ganda.
Penutupan kita tutup juga dengan upacara kecil kecilan juga+pembagian hadiah –JENGJENG- dari kepustakaan kita gabungkan antara ikhwan dan akhwat sebagai juara 1, 2, 3 nya, tapi untuk olahraga juara 1, 2, 3, kita pisahkan antara juara akhwat dan juara ikhwan. Dan ada juga 1 juara umum yang dimenangkan oleh kelas XII-2 –CONGRATULATION!-
NB : beberapa karya pemenang juga ada di post kita. Selamat membaca J

               
Malam itu, awal bulan Muharram. Aku masih di Cairo. Masih memandang langit yang sama, bintang yang sama, dan purnama yang sama seperti kemarin. Hanya saja, suasana malam ini lebih sepi, karena beberapa teman satu flatku sudah ada yang pulang ke tanah air mereka masing-masing. Tinggal Hamra, Bazlaa, dan aku. Kami semua adalah mahasiswi Universitas Al-Azhar S1 semester akhir.
“Qasima, mari kesini.. Ada ashir ashab dari tetangga sebelah,” panggil Hamra dari ruang tengah.
“Iya..”
Aku menutup jendela kamar, lalu beranjak ke ruang tengah. Bergabung bersama Hamra dan Bazlaa.
Setelah kenyang minum ashir ashab, aku langsung menuju ke kamar. Sedangkan Bazlaa dan Hamra masih asyik dengan obrolan mereka. Aku mengambil scrap book milikku di atas meja belajar. Membuka lembar demi lembar, tersenyum, membuka lagi, tersenyum lagi, begitu seterusnya. Setiap melihat fotoku dengannya, aku selalu tersenyum. Begitu indah kenangan itu.
                                                            ###
Pertengahan Shafar, aku kembali ke Indonesia. Bau semerbak tanah desaku memenuhi rongga dada. Sawah-sawah telah menguning seperti permadani emas yang terbentang di atas tanah. Aku rindu Indonesia, rindu desaku, rindu keluargaku, juga rindu dia. Ketika kakiku menginjak pekarangan rumah, orang yang pertama kali kulihat adalah dia. Ya, dia dan senyumnya yang menawan.
“Hai, Mas.” aku mencium tangannya.
“Jauh-jauh dari Cairo, nyapanya kok pakek ‘Hai’.”
Aku nyengir.
“Assalamualaikum, Mas.”
“Waalaikumussalam,”
“Kok makin kurus? Nggak pernah dapet makan ya di sana?”
Aku tertawa pelan. Dia masih seperti dulu,
“Diet, Mas.” ucapku ala kadarnya. Dia mengacak jilbabku, lalu mencium ubun-ubunku. “Mas, malu ah. Ini kan di luar.” ucapku. Dia malah tertawa.
“Sudah sana masuk, abah sama emak di dalam.”
Aku mengangguk, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Ia tidak banyak berubah. Hanya wajahnya sedikit terlihat lebih gelap dari terakhir kali aku melihatnya. Empat tahun yang lalu. Aku melepas sepatuku, lalu menaruhnya di rak sepatu. Rak sepatu inipun masih sama. Ruang tamu di hadapanku pun tak berubah. Rasanya seperti hanya beberapa minggu saja aku meninggalkan rumah. Tak ada tambahan foto yang digantung di dinding, tak ada barang apapun yang bertambah di bufet, tak juga vas bunga yang ada di atas meja tamu.
“Loh, Nduk.. Kok berdiri tok? Nggak mau masuk ke dalam?” tegur emak yang sudah berdiri di samping bufet sambil membawa baskom besar. Aku terkejut. Emak... Aku langsung berlari ke arahnya. Memeluknya, menciumi pipi, kening, dan tangannya berulang-ulang. Mataku berair.
“Kangen Emak...”
            Emak mengangkat wajahku, menatap mataku, lalu mengusap air mataku.
“Emak juga, Nduk..”
                                                            ###
BRAAKKK!!!
Pintu rumah didobrak. Waktu itu aku sedang tilawah. Buru-buru kuletakkan Al-Qur’an yang belum selesai kubaca itu di atas meja belajar. Langsung kuhampiri ruang tamu. Rupanya emak sudah ada di sana.
“Ya Allah Qasim... Kamu minum-minum lagi, Nak?”
Emak mengelus dada. Lagi-lagi aku dibuat terkejut. Dia? Minum-minum? Kakiku lemas seketika. Aku terduduk di lantai. Emak menoleh ke belakang, melihatku.
“Masuk kamar, Nduk. Masuk!”
Emak membantuku berdiri. Aku kembali ke kamar tanpa bertanya apapun. Pikiranku berkecamuk. Ada apa denganmu, Mas? Sayup-sayup kudengar suara emak dan suaranya bersahutan. Kupikir dia masih seperti dulu. Rajin mengajar ngaji anak-anak kampung di surau, menjadi khatib ketika shalat jumat, menjadi muadzin, menjadi imam bila Kiai Dalhar tak hadir di masjid, dan menjadi guru les privat ngaji untuk anak-anak kota. Dan yang utama, menjadi mbarep kebanggaan abah dan emak. Dan kebanggaanku.
                                                            ###
“Mak, sejak kapan Mas Qasim minum-minum?” tanyaku ketika aku membantu emak menyiapkan sarapan. Emak diam. Mungkin, mengingat-ingat awal mula kejadiannya.
“Sebulan yang lalu, awal Muharram.”
Tanpa diminta, emak menceritakan detail kejadiannya. Dari ketika Qasim melamar putri Kiai Dalhar tapi ditolak, lalu hampir bunuh diri, hingga akhirnya dilampiaskan pada minum arak. Dia tidak merokok maupun berjudi. Hanya minum. Aku sedih mendengar cerita emak. Mas Qasimku yang dulu kemana, Ya Allah?
“Sabar ya, Mak.. Kenapa Emak nggak pernah cerita ke Ima lewat surat?”
Emak menggeleng.
“Emak nggak mungkin nambahin beban pikiranmu, Ima.”
Aku menggenggam tangan emak.
“Masalah keluarga kan masalahku juga, Mak.”
“Sudahlah, Nduk. Sudah terjadi.”
“Lain kali, Emak harus cerita. Apapun yang terjadi.”
Akhirnya emak mengangguk juga. “Insya Allah.”
                                                            ###                                         
Qasim Hulwan dan Qasima Hulwan. Anak kembar yang lahir di Desa Pucangan, Kartasura. Qasima itu aku, dan Qasim itu masku. Di mana-mana, aku selalu bersama dia. Kami satu, dan tak pernah terpisahkan. Hingga waktu itu tiba...
Saat itu umurku baru delapan belas tahun, baru saja lulus SMA. Qasim juga. Sejak SD, SMP, dan SMA kami selalu satu sekolah. Kembar identik yang berprestasi, begitu julukan para guru pada kami. Lulus SMA, ingin lanjut kemana? Hanya itu yang ada di dalam benakku dan dia.
Siang itu, Pakde Darman datang berkunjung. Menawarkan beasiswa ke Universitas Al-Azhar, Cairo. Aku tidak tertarik tapi Qasim sangat tertarik. Dia ingin sekali mendapatkan beasiswa itu. Sayangnya, kata pakde beasiswa itu hanya untuk calon mahasiswi, bukan calon mahasiswa. Artinya, aku yang akan didaftarkan beasiswa itu. Qasim kecewa, dia sedih mendengarnya. Aku menghiburnya dengan membantunya mencarikan jalur lain agar ia bisa kuliah di tempat yang sama denganku. Tapi, hingga aku selesai tes untuk masuk universitas pun kami tak kunjung dapat. Jika ingin jalur mandiri, abah dan emak tidak sanggup membiayai. Akhirnya, Qasim memutuskan untuk tidak kuliah. Ujung-ujungnya, dia menjadi guru ngaji di kampung. Cerita setelahnya, aku tidak tau karena sudah terbang ke Cairo.
Aku pikir dia baik-baik saja ketika kutinggal ke Cairo. Tapi ternyata, banyak perubahan yang dia alami, tapi tak pernah kuketahui. Bahkan, dia sampai sudah berani melamar anak Kiai. Aku jadi merasa bersalah padanya. Andai dulu aku berusaha keras mencarikannya beasiswa ke Cairo, dia tak mungkin minum-minum seperti ini. Andai aku selalu mengirim surat tiap bulan, aku pasti tau kondisinya selama ini. Andai tiap dua tahun sekali kusempatkan untuk pulang ke tanah air, tak akan pernah kubiarkan dia kehilangan semangat hidupnya. Ah, tapi apa gunanya berandai-andai. Toh tak mendatangkan keajaiban.
                                                            ###
Sore itu, di akhir bulan Rabiul Awal. Aku sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah. Emak dan abah sama-sama pecinta tanaman. Abah juga terkenal sebagai kolektor tanaman hias. Banyak orang-orang kota datang untuk melihat dan ingin membeli. Dari hobi turun ke bisnis, kata abah. 
Kreeekkk...
Pagar kayu setinggi seratus senti meter itu terbuka. Mas Qasim pulang dengan wajah lebam. Dia pura-pura tak melihatku, dan langsung masuk ke dalam rumah. Aku segera mematikan kran, menunda aktifitasku. Kuhampiri dia yang sedang tiduran di kursi tamu sambil memegang wajahnya. Melihat lebam di pipi dan pelipisnya, tanpa berkata apapun aku segera menyiapkan kompres air hangat untuknya. Aku mengompres lukanya pelan-pelan. Dia terus mengaduh kesakitan.
“Kamu habis ngapain lagi to, Mas?” tanyaku lembut.
“Berantemlah. Kamu nggak liat luka-luka ini, ha?” ujarnya kasar. Untung saja emak dan abah pergi pengajian. Kalau tidak, ruang ini akan jadi ruang adu mulut.
“Mas nggak pingin kayak dulu lagi? Ngajar ngaji, jadi imam..”
PLAK!
Aku tersentak. Pipiku ditampar! Aku menghentikan aktifitasku mengompres Qasim. Kusentuh pipiku, panas. Keras sekali tamparannya tadi padaku. Seumur-umur, baru kali ini aku ditampar. Bahkan emak maupun abah tidak pernah menamparku.
“Jangan pernah ungkit-ungkit masa laluku di depanku! Inget itu, Ima!” bentaknya lalu bangkit dari kursi, melempar kompres itu ke wajahku lalu pergi. Aku diam, menangis dalam hati. Tak tau apa yang harus kulakukan. Sudah sebulan aku di rumah, tapi aku belum juga terbiasa dengan sifatnya yang berubah drastis. Ya Allah, kembalikan Mas Qasimku yang dulu... doaku sendu.
                                                            ###
Suatu hari di bulan Rabiul Akhir. Ketika aku akan pergi untuk mengajar ngaji, aku mengintip kamar Qasim. Aku sempat terkejut melihatnya sedang membuka-buka scrap book milikku. Dapat dari mana dia? Hanya itu yang kupikirkan selama perjalanan menuju surau.
“Mbak Ima!!” teriak anak-anak menyambutku di depan pintu surau. Aku tersenyum.
“Assalamualaikum,” sapaku hangat pada mereka.
“Waalaikumussalam..” mereka berebut mencium tanganku.
“Udah-udah, ayo masuk.”
Aku membimbing mereka masuk ke dalam surau. Sebelum aku masuk, kulihat sekilas ada bayangan di balik pohon. Tapi kutepiskan pikiran aneh itu.
                                                            ###
Malamnya, aku mengendap-endap ke kamar Qasim. Ingin kuambil kembali scrap book milikku. Untung waktu itu dia sedang tidak di kamar. Kutelusuri seluruh penjuru kamarnya. Foto-fotonya yang dulu biasa digantungkan di dinding kamarnya sudah disembunyikannya entah di mana. Ah itu dia... Aku mengambil scrap book milikku yang tergeletak di atas bantalnya. Tanpa melihat-lihat kamarnya lagi lebih lama, aku segera berjingkat keluar.
“Ngapain kamu di dalem?” tanya Qasim ketika aku menutup pintu kamarnya. Deg! Aduh, ketahuan...  Aku diam tak berani membalikkan badan.
“Maaf...” ucapku pelan. Sangat pelan.
Tangan kekar itu membalikkan badanku. Aku menunduk, tak berani memandangnya. Tangannya melayang ke atas. Aku memegangi pipiku, takut ditampar lagi. Qasim malah tertawa, lalu mengacak rambutku.
“Lain kali ijin dulu ya, adek manis.”
Ujarnya, lalu masuk kamar dan menutup pintunya. Aku diam. Tertegun, masih tidak percaya. Apa benar tadi Mas Qasim? Ah! Kutepiskan pikiran anehku. Buru-buru kulangkahkan kakiku ke kamar.
                                                            ###
Di penghujung Ramadhan, aku dan Qasim berjalan-jalan di pematang sawah. Kami berbagi cerita, bertukar lelucon, berlari-larian. Hh.. senangnya. Lelah bermain, kami beristirahat di gubuk. Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kakiku. Dia duduk di sampingku, sambil menatap indahnya langit senja.
“Sudah hari terakir Ramadhan, Dek.”
“Iya, Mas.”
“Rasanya, kepompongku sudah hampir terbuka.”
“Jadi kupu-kupu deh.”
Dia tertawa.
“Hh.. Dulu aku ulat jelek dan menjijikkan. Untung Allah masih sayang sama aku, ya. Dari kembaranku ini...” dia mengelus kepalaku. “Aku diberi hidayah olehNya,”
Aku tersenyum.
“Itu juga dari niatan mas sendiri, kan.. Aku cuman perantara.”
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Alhamdulillah, di penghujung Ramadhan ini aku menemukan sosok masku yang dulu. Mas yang selalu membuat abah, emak, dan aku bangga. Jangan pergi lagi, Mas.. pintaku dalam hati.
                                                            ###
Welcome Muharram, Good Bye Dzulhijjah. Aku sedang membaca diary milik Qasim. Dia memang hobi menulis sejak kelas tiga SD. Tulisannya rapi seperti tulisan perempuan.
 12 Rabiul Awal, Kartasura.
Aku mengambil scrap book milik Ima. Entah kenapa, waktu aku masuk kamarnya yang kuambil buku itu. Padahal tujuanku mengambil uang dalam dompetnya.
Di kamar, kubuka buku itu. Ada banyak fotoku di sana. Melihat foto-foto itu, aku seperti melihat orang asing. Dan bukan diriku. Batin dan pikiranku berkecamuk.
Itu aku, kupu-kupu indah yang sekarang berubah menjadi ulat kecil nan menjijikkan.
Aku membuka kertas yang lain.
29 Rabiul Akhir, Kartasura.
Aku sering diam-diam mengikuti Ima mengajar ngaji di surau. Dia benar-benar terlihat seperti aku. Wajahnya teduh nan bercahaya. Seperti aku yang dulu, bukan yang sekarang.
Aku ingin kembali seperti dulu. Aku ingin kembali padaMu, Allah.
Aku tersenyum membacanya. Jadi sejak itu dia selalu mengikutiku? Ternyata bayangan di balik pohon itu dia. Aku membuka bagian akhir diary.
30 Sya’ban, Kartasura.
Sebentar lagi Ramadhan. Aku harus bisa kembali menjadi kupu-kupu. Setelah menjadi ulat, aku harus menjadi kepompong dulu supaya bisa menjadi kupu-kupu. Bantu aku, Ya Allah..

1 Dzulqaidah, Kartasura.
Mimpi yang indah. Aku bermimpi mencium bau surga.

10 Dzulqaidah, Kartasura.
Mimpi yang indah. Lagi. Mencium bau surga. Bunga kesturi di mana-mana.

15  Dzulqaidah, Kartasura.
Pertandakah ini? Belakangan ini aku jadi lebih rajin pergi ke surau, mengaji dengan Kiai Dalhar, membantu emak dan abah, juga lebih sayang pada Ima. Bukankah orang-orang sholih juga merasakan tandanya? Tapi siapa aku? Aku bukanlah golongan dari mereka.
Aku menutup buku itu. Menghembuskan nafas panjang.
Wahai Tuhan pemilik ampunan, ampuni segala dosaku, dosa kedua orangtuaku, dan dosa saudaraku. Terimalah segala amalnya dan tempatkanlah ia di sisiMu, Ya Allah. Aamiiin.. doaku dalam hati.
                                                            ###
Tepat tanggal sepuluh Dzulqaidah, kami para jamaah sholat idhul adha adalah saksi syahidnya Qasim Hulwan bin Abu Marwan. Air mata kami tumpah ketika melihat sosoknya kaku tak bergerak dalam keadaan sujud. Subhanallah. Aku tak tau, tangis sedih, bahagia, atau bangga untuknya. Tapi yang pasti, aku bangga karena dia khusnul khotimah.
Satu abad sama dengan seratus tahun. Satu dasawarsa sama dengan dua belas tahun. Satu dekade sama dengan sepuluh tahun. Satu windu sama dengan delapan tahun. Satu tahun sama dengan dua belas bulan. Dan tiap tahunku bersamamu adalah hal terindah untukku.
Aku merebahkan tubuhku di rerumputan, tempat anak-anak kampung biasa menggembalakan kambing mereka. Aku sendiri menatap langit malam. Langit malam tanpa bintang. Bulanpun turut bersembunyi di balik awan. Malam yang dingin di awal tahun Hijriah.
“Sudah awal Muharram, Mas. Aku ingin kau di sini bersamaku. Menghabiskan tahun Hijriah dengan suka cita. Banyak hari yang belum kita lalui bersama. Kembalilah, Mas. Maka tak akan ada lagi Hijriahku tanpamu,”
Aku mencium fotonya, kupandangi terus, dan berharap agar dia bisa kembali ke sisiku. Lagi.

Amalia Hanifah L, XII-2
Juara 1 Cerpen 'Muharram Awesome'
Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan diatas kehormatan
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu

Bukan karena faham yang berbeda
Melainkan fikiran kita menuju sama
Bukan pula karena ada atau tiada
Tapi diri menuntut akan semua itu ada

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara
Sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Melantun kebaikan diantara bunga
Menebar keindahan pada dunia

Melukis luka dengan hati terbuka
Memaafkan arus yang terus menghujam
Melebarkan sayap bersiap mengarunginya
Esok Muharram kan datang, sambut hijriah
Dan siap menapaki masa bersama

Lalu dengan rindu kita kembali dalam dekapan
Mengambil cinta dari langit dan menebarkanya di bumi
Dengan persaudaraan suci, sebening prasangka
Selembut nurani, sehangat semangat
Senikmat berbagi dan sekokoh janji

Bersama dalam naungan
Membuka kisah, menorah waktu
Dengan senyuman yang senantiasa membangitkan iman

Annisa Nurul Izza, X-2
1st Winner of Poem 'Muharram Awesome'


                
Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Get Connected

  • Twitter
  • Facebook
  • Pinterest
  • Google Plus
  • Instagram
  • Soundcloud
  • Flickr
  • YouTube

Popular Posts

MA NURUL ISLAM MENGIKUTI FOKSIT (Forum Komunikasi Siswa Islam Terpadu)

Profil MA Nurul Islam

Muharram Bunga Krisan

Apa itu Manista Move On?

Seputar Manista Move On 2016

our medal

PERJUSA

Daftar Pemenang Manista Move On 2016

MPKD (Mukhoyyam Pandu keadilan Dasar )

Struktur OPNI Putra

Category

  • Event Asrama
  • Event Sekolah
  • Karya Santri
  • Manista Move On
  • PPDB
  • Profil
  • Struktur Organisasi

(C) OPNI MA Nurul Islam Tengaran |

  • Beranda